Pasarwajo – Meski baru saja dilantik sebagai Pj Bupati Buton atau tepatnya pada 24 Agustus 2022 lalu, namun Basiran langsung tancap gas dalam meneruskan pembangunan fisik maupun nonfisik di Kabupaten Buton. Sejumlah program jangka pendek, menengah dan jangka panjang telah digagasnya. Salahsatunya mewujudkan Buton bebas stunting.
Alasan dirinya getol ingin mewujudkan Buton bebas stunting bukan tanpa alasan, melainkan karena adanya sejumlah faktor, diantaranya dirinya merasa prihatin disaat era perkembangan zaman ini justru kasus stunting di Provinsi Sulawesi Tenggara menunjukkan peningkatan.
“Data Sulawesi Tenggara untuk stunting menunjukan peningkatan, sehingga harus dibuatkan program untuk penurunan stunting,” Hal itu dikatakan Pj Bupati Buton ketika membuka Orientasi Pemanfaatan Elsimil dan Google Form Pada Proses Identifikasi Kasus Stunting bertempat di Aula Kantor Bupati Buton, Pasarwajo, Sabtu (27/8/2022).
Untuk itu, Basiran bakal menggaungkan dan mengkampanyekan pemberantasan stunting di seluruh pelosok wilayah Kabupaten Buton. Langkah pertama untuk itu semua RT, RW, Kepala Desa dan Lurah, Camat bahkan Kepala OPD akan diberikan pengetahuan dan pemahaman tentang stunting.
Kepala BPKAD Provinsi Sultra ini juga akan membuat inovasi baru yakni pemberian hadiah untuk ibu-ibu menyusui. Ini sebagai bentuk kepedulian Pemerintah Desa dan apresiasi serta motivasi kepada Ibu agar mengutamakan pemberian Air Susu Ibu (ASI) kepada anaknya yang bayi.
“Supaya ibu-ibu yang menyusui minimal diberi penghargaan supaya ada rasa kebanggaaan sebagai ibu terbaik. Jadi diharapkan kreativitas para Kepala Desa untuk gerakan cinta ASI dimulai dari desa,” katanya.
Dengan pemberian ASI yang pada bayi diharapkan tumbuh kembang anak menjadi lebih baik. Pada akhirnya Sumber Daya Manusia di Buton akan lebih meningkat.
Menurut Basiran, membangun daerah itu tidak hanya dalam bentuk fisik seperti jalan ataupun membangun gedung, tetapi yang utama itu membangun Sumber Daya Manusianya.
“Buton hari ini dengan potensi SDA yang cukup luas, makanan hasil laut yang cukup banyak, maka di harapkan 1000 Hari kehidupan pertama untuk generasi penerus anak cucu kita sebagai kebanggaan masyarakat Buton yakni terciptanya SDM yang mumpuni,” katanya.
Sementara itu, dalam kesempatannya Deputi Bidang Pelatihan Penelitian dan Pengembangan BKKBN RI Prof drh Muhammad Rizal Martua Damanik, menjelaskan Stunting merupakan gagalnya tumbuh kembang anak akibat kekurangan gizi kronis.
“Prevalensi stunting di Indonesia ini sekarang adalah 24,4 persen, artinya dari 100 ibu yang melahirkan 24 bayi yang baru dilahirkan terkena stunting. Tumbuh kembang anak mulai terjadi sejak bayi masih dalam kandungan. Olehkarena itu, asupan ibu hamil sangat penting untuk mencegah adanya stunting,” ujar Deputi.
Dikatakannya, salahsatu cara memperbaiki ganguan tumbuh kembang anak dengan cara 1000 hari pertama kehidupan yaitu dengan pemberian ASI selama dua tahun.
“Pentingnya air susu ibu juga sangatlah penting dalam pencegahan stunting karena ASI merupakan makanan satu-satunya untuk memenuhi nutrisi bayi,” katanya.
Diera digital sekarang ini lanjut Rizal Martua segala sesuatunya telah menggunakan teknologi. Oleh karena itu, dalam upaya penurunan angka stunting BKKBN memanfaatkan teknologi dengan menciptakan Aplikasi Elsimil yaitu Elektronik, Siap Nikah Siap Hamil.
“Aplikasi ini bertujuan untuk menjangkau para calon pengantin. Dengan Aplikasi Elmisil dapat menjadi media edukasi tentang kesiapan menikah dan hamil dan untuk pencegahan bayi lahir stunting baru,” katanya.
Pihak BKKBN Buton juga telah menjalin kerjasama dengan Kantor Urusan Agama (KUA) untuk mendata para calon pengantin.
Turut hadir pada kegiatan tersebut Sekretaris Daerah Kabupaten Buton, Asnawi Jamaluddin SPd MSi, Deputi Bidang Pelatihan Penelitian dan Pengembangan BKKBN RI, Prof drh Muhammad Rizal Martua Damanik SM Repse Pdh, Kepala Perwakilan Sulawesi Tenggara Drs Asmar MSi, Koordinator Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Sultra d. Fitriani Abu Kasim MKes, Para Kepala OPD Lingkup Pemda Buton, serta Para Kader PKK, Bidan, Penyuluh se- Kabupaten Buton.







































































